Jumat, 22 Oktober 2010

KOLAM AIRNONA

Dari Sumba, Awal Proses Gurun NTT (Copyright: http://www.pos-kupang.com)

Wednesday, February 25, 2009, 18:59 | 1,903 views

awal_proses_gurun_nttKOLAM AIRNONA — Kolam Airnona yang selalu penuh dengan air pada musim hujan menjadi fasilitas mandi dan cuci yang menyenangkan bagi warga sekitar. Namun kelestarian kolam ini patut dijaga agar kolam ini tidak menjadi cerita masa lalu bagi warga Kota Kupang yang hidup 50 tahun mendatang.

PERMUKAAN air kolam Airnona tenang pada Rabu (25/2/2009) sore. Hanya nampak beberapa warga sekitar yang duduk-duduk disekitar kolam selus empat kali lapangan voly tersebut. Beberapa pemuda memanfaatkan air itu untuk mencuci sepeda motor.
Beberapa jam sebelumnya, di kolam ini ramai anak-anak berenang dan menikmati dinginnya air di Kelurahan Airnona-Kecamatan Oebobo, Kota Kupang ini. Setiap hari, kolam ini bukan saja menjadi kebanggaan warga sekitar, tetapi juga menjadi tempat mandi, cuci dan kebutuhan lainnya oleh warga yang tinggal di tempat itu.

Di Kota Kupang banyak tempat yang hampir serupa dimana muncul mata air dan kemudian menjadi sumber air. Sebut saja di kolam Oeba, sumber air Oepura dan Sikumana serta beberapa titik sumber air. Bila di lihat lebih luas lagi di NTT, banyak tempat-tempat serupa. Pada umumnya sumber air menjadi urat nadi kehidupan warga sekitar bukan saja sebagai sumber air bersih untuk air minum maupun cuci, tetapi juga untuk perhatian.

Sumber air di NTT yang tersebar di seluruh wilayah NTT telah membentuk beberapa sungai dan selanjutnya mengairi lahan-lahan pertanian, memenuhi kolam-kolam tambak ikan bahkan menjadi sumber air bersih untuk wilayah lain. Sumber air tersebut tidak terlepas dari kehadiran hutan-hutan yang yang berada di hulu sungai. Peran hutan-hutan jelas yaitu mencegah erosi yang menyimpan sumber air hujan.

Cerita NTT yang memiliki kolam, danau dan sungai meski tidak sebesar di Pulau Sumatera, Kalimantan atau Jawa, bisa saja hanya menjadi kisah manis pada 50 tahun mendatang. Sebab, sadar atau tidak sadar, hutan-hutan di NTT telah rusak, baik oleh alam maupun oleh perbuatan manusia.

Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof.Ir.Frans Umbu Datta, M.App, Sc, Ph.D, saat bertemu Menteri Kehutanan, MS.Ka’ban, di Kampus Undana belum lama ini mengatakan, luas tutupan hutan di NTT hanya sekitar lima persen saja. Jumlah itu juga berangsur berkurang.

Proses Jadi Gurun

Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) NTT, Dr. Michael Riwu-Kaho, yang ditemui di sela seminar Forum Das NTT dan Tim Forum Das Kabupaten Aceh Jaya, Propinsi Nangroe Aceh Darusalam di Hotel Silvia-Kupang, Sabtu (14/2/2009) menyebutkan, proses pembentukan gurun di NTT kini sedang berlangsung. Sadar atau tidak, bahkan cikal bakal gurun di NTT sudah mulai berlangsung. Ia menyebutkan, kawasan Wairinding di Kabupaten Sumba Timur sudah menunjukan tanda-tanda proses menjadi gurun. “Saya merasa sangat ngeri saat berada di Wairinding, karena disana sangat panas dan kering. Itu merupakan tanda-tanda terjadi gurun di wilaya itu,” ujarnya.

Ia menyebutkan, di kawasan itu kini sudah hidup sejenis rumput anual yaitu fimbristilys cymosa. Rumput ini biasanya hanya hidup di gurun pasir, sehingga bila rumput jenis ini sudah ada di Wairinding berarti proses penggurunan sudah dimulai di tempat itu. “Saya merasa ngeri sekali dengan situasi di sana, kalau ini tidak diantisipasi sejak sejak sekakarang maka gurun akan terjadi di wilayah ini dalam 40 tahun mendatang,” jelasnya.
Luas hutan di NTT saat ini sekitar 600 ribu hektar dan tingkat rata-rata kerusakan hutan (deforestasi) NTT adalah 15 ribu hektar per tahun. Sedangkan kemampuan pemerintah merehabalitasi hutan hanya sekitar tiga ribu hektar pertahun, serta sisanya dari masyarakat dengan asumsi semua pohon yang ditanam tumbu menjadi besar. Jadi pertambahan lahan yang rusak di NTT sekitar 12 ribu hektar pertahun. “Itupun kalau pohon yang ditanam dalam program perbakan lahan itu berjalan baik, kalau pohon-pohon yang ditanam itu mati, terbakar atau di makan ternak berarti semakin luas kerusakan hutan jelasnya,” jelasnya.

Dengan perhitungan tersebut maka dalam waktu 40 tahun, hutan di NTT bakal habis. Dan, gurun pasir pun mulai terjadi di hampir semua wilayah di NTT.
Menurut Riwu Kaho, berdasarkan Citra Landsat Propinsi NTT, Tahun 2003 komposisi kualitas lahan di NTT adalah 98.127 ha (20,85 persen) sangat kritis, 2.255.462 ha (47,63) kritis, 1.184.665 ha (25,02 persen) agak kritis, 288.064 (5,96 persen) potensial kritis dan 23.994 ha (0,51 persen) tidak kritis. Ini menunjukan NTT sangat memungkinkan menjadi daerah gurun.Sumba merupakan cikal bakal gurun di NTT, namun potensi itu bisa dengan cepat meluas dan merata ke seluruh wilayah NTT.
Bila gurun benar terjadi di bumi Flobamora maka masyarakat wilayah ini harus siap untuk mengalami hidup dengan kondisi alam yang sangat keras seperti tinggal di wilayah yang amat tandus dengan cura hujan rata-rata kurang dai 25 cm pertahun serta turun tidak teratur dan tidak pernah lebat, sinar matahari sangat terik bahkan bisa mencapai 40 derajat cercius dan perbedaan suhu siang dan malan sangat tinggi.

Antisipasi

Bila tidak ada antisipasi maka lahan kritis di NTT akan menjadi lahan lebih kritis, lahan yang agak kritis menjadi kritis dan lahan yang potensial kritis menjadi agak kritis bahkan lahan yang tidak kritis masuk dalam lahan yang berpotensi kritis. “Sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi menjadi hamparan gurun, apabila kebiasaan menebas hutan, membakar semak-belukar, dan berkebun perpindah-pindah tidak dapat dikurangi. Tiga daerah berpotensi gurun di Indonesia adalah NTB, NTT dan Sulawesi Tengah,” jelasnya.

Langka-langka serius dengan menam pohon, mencitpakan cinta lingkungan di kalangan anak-anak merupakan langka yang harus di galakan. Sebab, hanya dengan menanam pohon saja bumi NTT bisa diselamatkan. Upaya-upaya pembakalan liar pun harus berantas habis.

Bila tidak, NTT akan masuk dalam fase baru kehidupan yakni hidup dalam alam gurun. Di alam gurun, hampir pasti air menjadi barang yang sangat langka. Sesama warga bisa saling membunuh hanya untuk sumber air yang sangat minim, pertanian dan pertenakan akan dengan sendirinya menjadi hal mustahil di kembangkan dan selanjutnya wabah penyakit dan kelaparan akan terjadi dimana-mana.

Air yang berlimpa seperti halnya kolam Air Nona, sungai-sungai dan hutan-hutan hanya akan menjadi cerita masa lalu tentang kejayaan NTT.

Fonema ini sudah terjadi di Afrika dimana kekeringan dan kelaparan terjadi sepanjang tahun dan selanjutnya memicu perang hanya untuk memperebutkan makanan.
Agar NTT tidak seperti beberapa negara Afrika yang kerap mengalami kelaparan, maka kebiasaan menanam pohon harus dilakukan sejak sekarang. Upaya-upaya serius melindungi hutan dan isinya harus dilakukan sejak kini demikian juga sosialisasi bahaya gurun tersebut.*

Kupang Di Masa Lalu

Ya, di Jalan inilah tampaknya Kupang mendapat julukannya : Kota Masa Lalu. Sejarah awal berdirinya Kupang memang tidak dapat dilepaskan dari wilayah ini. Wilayah yang sekarang disebut-sebut sebagai Kampung Solor (karena banyaknya warga Solor yang bermukim disini) adalah area pusat kota ketika Kota Kupang baru pertama kali berdiri. Jalan Soekarno, yang terletak persis di depan Teluk Kupang bagian barat adalah jalan yang sudah berusia cukup tua. Gampangnya, lihat saja bangunan-bangunan yang ada disini. Hampir semuanya bercirikan bangunan jadul dengan hiasan lumut maupun noda cat yang luntur memenuhi dinding bangunan. Start awal perjalanan ini bisa dimulai dari Simpang Besar Urip Soemohardjo, dari Gereja Katedral Kristus Raja, terus bergerak ke arah barat laut hingga mencapai Teluk Kupang.
Pertama, anda akan bertemu dengan Masjid Raya Kota Kupang Nurusya’Adah. Kubahnya yang sangat besar memang membuat anda tidak mungkin melewatkannya. Pintunya yang bernuansa jadul dan tangga semen tanpa terali di pinggirnya memang menguatkan nuansa jadul pada bangunan ini. Selain sebagai tempat beribadah, Masjid ini juga digunakan sebagai pusat dakwah. Pada saat hari kunjungan, saya tidak menemukan adanya kegiatan sama sekali. Berikutnya, di seberangnya ada Kantor Pos Fontein. Walaupun cat putihnya tampak baru, namun kesan jadul tidak bisa ditutupi oleh bangunan mini berbentuk mirip barak ini.
Kemudian di sekitar belokan jalan, ada Bank BRI dan Kantor Bupati Kupang (Kantor Bupati Kupang berlokasi di Kota Kupang?) yang keduanya mengusung bentuk bangunan yang hampir mirip yakni berbentuk benteng. Bedanya, Bank BRI ditutupi oleh semacam keramik pada sisinya sedangkan Kantor Bupati lebih condong ke arah benteng. Sayang, berhubung keduanya bangunan pemerintah, maka saya tidak terlalu nekad mencoba masuk untuk berfoto. Hehehe…
Terakhir, di area penghujung dekat dengan teluk, ada sejumlah bangunan (kayaknya sich bekas gedung pusat pemerintahan-jelas dengan lambang di atapnya) jadul, super keropos, berjamur, bernoda, catnya rapuh dan kotor. Tulisan yang tampaknya seperti Nacaca Dano Rocca tampak di bagian bawah lambang sebuah pentungan, dengan kapas dan padi di kanan kirinya diapit oleh sepasang sayap. Mungkin ini sejenis lambang kepolisian atau militer? Yang membuat unik adalah sebuah menara tinggi di sebelahnya yang sama-sama keropos dan kotornya dengan bangunan utama. Kondisi serupa dapat ditemukan di Kantor Perlindungan Masyarakat yang juga pada siang itu tidak tampak adanya kegiatan berarti. GMIT Jemaat Kota Kupang berada di sebelah Kantor Perlindungan Masyarakat ini. Terakhir, di ujung jalan ini ada sebuah bangunan gaya Cina yang sudah keropos juga yang di bagian bawahnya dijadikan toko dan emperannya digunakan oleh para pedagang sayur mayur. Puas deh ngeliat bangunan-bangunan tua yang jadul, keropos dan jamuran. Hehehe…

Mengunjungi Kupang dan Pulau Rote

Liburan akhir taun kemarin, saya memanfaatkannya untuk jalan-jalan di Kota Kupang dan Pulau Rote yang terletak di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Walau banyak bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan, tapi secara keseluruhan liburan kali ini sangat menyenangkan.



View Larger Map

Pantai Lasiana

Pantai Lasiana adalah obyek wisata pantai andalan kota Kupang. Setiap harinya pantai ini dipenuhi oleh pengunjung, apalagi jika hari libur atau di akhir pekan. Pantai ini memang mudah dijangkau. Dari kota Kupang jaraknya hanya 12 km dan bisa dijangkau dengan kendaraan umum selama kurang lebih 15 menit.
Dari jalan raya ke kawasan pantai Lasiana jaraknya sekitar 200m dengan
melewati sebuah perkampungan kecil, hingga kita tiba di gapura pantai Lasiana. Dari gapura hingga di pinggir pantai kita disambut dengan pohon-pohon kelapa dan lontar yang tinggi menjulang. Pohon-pohon yang menjadi cirri khas pulau Timor ini, selain melindungi pantai juga berfungsi untuk memberikan naungan.
Berbeda dengan pantai-pantai lainnya di Kupang yang penuh dengan karang, pantai Lasiana adalah sebuah pantai tanpa karang dengan hamparan pasir yang luas, sehingga sangat cocok untuk berenang dan berjemur. Kemiringannya yang relative datar juga membuat pantai yang berhadapan langsung dengan laut Sawu ini cocok untuk olahraga volley pantai. Sayang seribu sayang, ketika kami mengunjungi pantai ini, keindahan Lasiana tertutup oleh tumpukan sampah disana-sini. Padahal



oleh pengelola pantai telah disediakan tempat-tempat sampah, tetapi kesadaran pengunjung untuk menjaga kebersihan lingkungan memang sangat rendah. Niat saya untuk bermain pasir langsung sirna melihat sampah-sampah tersebut.
Fasilitas yang tersedia di kawasan wisata pantai ini terbilang lumayan. Ada kantor pengelola, kolam renang, MCK, kios kios makanan dan cenderamata. Yang wajib dicoba ketika kita datang ke pantai ini adalah makanan khas orang Timor yakni pisang gepe dan kelapa muda.Pisang
gepe adalah pisang bakar yang dilumuri gula aren dan kacang tanah tumbuk. Sangat pas dinikmati sambil duduk bercerita di bawah lopo-lopo atau rumah rumah kecil khas timor, dengan atap ijuk atau daun lontar.


Gua Monyet
Gua Monyet adalah salah sato obyek wisata yang terletak di bagian Selatan kota Kupang. Di Gua yang terletak di pinggir jalan raya Kota Kupang – pelabuhan kapal Tenau ini, dipelihara ratusan kera ekor panjang (Macaca fascicularis).
Pohon-pohon kesambi (Schleichera oleosa) yang tumbuh hijau, gua dan batu batu karang yang memang menjadi ciri khas kota kupang, membuat kawasan ini menjadi habitat yang nyaman bagi kera-kera ini.





Mencapai obyek wisata ini sangatlah muda, bisa menggunakan ojek @Rp.10.000 dari kota kupang atau menggunakan angkutan kota tujuan pelabuhan Tenau @Rp.2000. oya, jika mengunjungi gua monyet, jangan lupa untuk membawa oleh oleh buat monyet monyet manis ini ya: kacang, pisang atau biscuit



Pantai Tablolong
Kalau pantai Lasiana berada dekat saja dengan kota Kupang, pantai Tablolong berada di barat daya kota Kupang yakni di kecamatan Kupang Barat, kabupaten Kupang. Dengan kendaraan bisa ditempuh

dalam waktu sekitar 45 menit. Karena tidak ada kendaraan umum dengan rute melewati dan atau menuju pantai ini, maka kita bisa merental kendaraan dengan biaya Rp.50.000/jam. Sepanjang perjalanan dari Kupang ke kawasan pantai ini, kita akan disuguhkan pemandangan khas desa-desa di Puau Timor. Batu karang dimana-mana, tumbuhan yang mulai menghijau seiring hujan yang mulai turun (jika musim kemarau tumbuh2an disini menjadi kering kekurangan air) dan kekhasan rumah2 penduduk. Walau letaknya lumayan jauh dari Kota Kupang, tetapi dari segi keindahannya, pantai ini jauh lebih indah dari pantai Lasiana.

Pasir putih dan air yang biru bercahaya tertimpa cahaya matahari. Kerenlah. Dipantai ini kita dapat mandi dan main pasir sepuas2nya
karena pasirnya bersih, tidak penuh sampah seperti Lasiana. Pantai ini memang belum banyak yang mengunjungi. Mungkin karena letaknya yang lumayan jauh dari Kupang. Pengelolaan pantai ini oleh pemda
juga sangat minim. Tidak ada fasilitas yang dibangun. Terlihat hanya ada beberapa lopo-lopo atau rumah-rumahan untuk tempat duduk dan bersantai dan sebuah kamar mandi. Pedagang yang menjual makanan dan minumanpun tidak ada. Jadi jika datang ke pantai cantik ini jangan lupa membawa makanan dan minuman sendiri.





Air terjun Oenesu
Satu lagi tempat menarik yang bisa dikunjungi di kota Kupang yakni kawasan wisata air terjun Oenesu yang

terletak sekitar 17 km dari kota Kupang. Karena tidak ada rute kendaraan umum ke tempat ini, maka untuk mencapainya kita bisa menggunakan ojek atau menyewa kendaraan. Oya, tempat rental mobil banyak tersedia di kota Kupang, biasanya berkisar Rp.50.000/jam. Untuk kenyamanan, ada baiknya menggunakan mobil, apalagi terik kota Kupang bisa terasa sangat perih di kulit.






Jalan ke tempat wisata ini lumayan bagus, dari kota Kupang bisa ditempuh sekitar 30 menit. Air terjun oenesu berada dalam sebuah hutan wisata seluas setengah
hektaran. Memasuki wilayah ini, terasa iklim mikro yang sangat berbeda, apalagi terdengar suara burung-burung maupun serangga hutan lainnya. Dari parkiran mata kita langsung disegarkan dengan hijau pohon-pohon. Masuk lebih dalam kita disambut sebuah kali (anak sungai) kecil yang sangat jernih. Untuk mencapai air terjun, dari kali tersebut kita menuruni puluhan anak tangga dengan pohon-pohon di sekitarnya.
Air terjun oenesu terdiri dari empat tingkat. Untuk pergi dari satu tingkat ke tingkat lainnya, dapat menggunakan tangga atau jika punya cukup nyali boleh juga untuk


terjun bebas :). Suara air terjun yang tak pernah henti, merasakan segarnya air menyentuh kulit, pohon-pohon rindang di sekitarnya juga suara burung-burung, membuat kita sangat betah berada lama-lama di lokasi ini, benar-benar bisa menghilangkan penat dan merefresh otak.
Setelah puas menikmati indahnya air terjun, kita dapat beristirahat di lopo-lopo sambil menikmati aneka makanan dan minuman yang dijual para pedagang. Tetapi pedagang-pedagang yang berjualan di sini tidak memiliki kios jualan yang dibangun permanen. Mereka adalah pedagang

bermotor yang datang dari Kupang, jadi jika pengunjung sedang sepi, maka mereka akan berjualan di tempat lain. Masih minim fasilitas yang tersedia di obyek wisata ini. Hanya terdapat beberapa lopo-lopo dan sebuah kamar mandi. Melihat banyaknya pengunjung ke obyek wisata ini, ada baiknya pemerintah mengelolanya dengan lebih baik, misalnya dengan menambah fasilitas, karena berpotensi menambah pendapatan daerah.






Jalan-jalan ke Museum





Wisata museum? Kenapa tidak? Dengan mengunjungi museum kita akan mengetahui lebih banyak tentang
suatu kebudayaan. Di Kupang, saya juga menyempatkan diri untuk mengunjungi museum daerah NTT yang terletak di jalan perintis kemerdekaan, Kelapa Lima Kupang. Untuk menjangkaunya, dari terminal kota kita hanya cukup menggunakan angkotan kota dengan tariff @Rp.2000.
Di museum ini, ada banyak yang dapat kita lihat. Diantaranya perlengkapan budaya dari berbagai suku di NTT, juga pakaian-pakaian
dan perhiasan-perhiasan. Oya di museum ini juga terdapat kerangka ikan paus. Ini baru pertama kali dalam seumur hidup saya melihat kerangka ikan paus, ternyata gede banget ya




Wisata kuliner kota Kupang
Jalan-jalan ke suatu daerah lebih lengkap jika kita juga menikmati makanan khas daerah bersangkutan. Anda
menyukai daging asap? Boleh juga mencoba Se’i yakni daging asap khas Kupang. Tak usah kuatir dengan
kehalalannya, selain se’i babi, ada juga se’i sapi. Se’i biasanya disajikan dengan sambal lu’at. Sambal ini hanya terbuat dari cabe rawit, daun kemangi dan jeruk, tetapi dengan komposisi yang pas dan menghasilkan rasa yang maknyos :).
Warung-warung se’i banyak tersebar di kota Kupang.
Atau jika kita ingin menikmati kue-kue tradisional Kupang seperti cucur, kita bisa datang ke oesao yang terletak di Kecamatan Kupang Timur. Disini ada deretan warung-warung yang menjual kue-kue tradisional dan jagung bakar/rebus. Yang membuatnya berbeda adalah letaknya yang di pinggiran sawah, jadi sambil menikmati kue-kue tersebut, mata kitapun dimanjakan dengan view yang indah. Jika anda ingin pula menikmati cemilan-cemilan khas kota Kupang seperti gula lempeng, krupuk paru,abon, jagung titi,dodol lontar, dan lain sebagainya, bisa didapat di tempat-tempat penjualan makanan khas Kupang yang banyak tersebar di kota Kupang atau di supermarket-supermarket.




Pulau Rote
Datang ke Pulau Timor, rasanya kurang lengkap jika tidak menyempatkan diri datang ke titik terselatan Indonesia yakni ke Pulau Rote atau Pulau Roti. Alat music sasando dan topi adat Ti’i Langga yang sering dijadikan icon NTT berasal dari Pulau ini. Selain itu, Pulau Rote memiliki pantai-pantai yang sangat indah. Pulau Rote merupakan bagian dari kabupaten Rote Ndao propinsi Nusa Tenggara Timur.

View Larger Map



Untuk mencapai pulau Rote dari Kupang kita bisa menggunakan transportasi udara maupun laut. Kami memilih untuk mengambil perjalanan laut, karena pasti akan lebih seru dan lebih banyak pemandangan yang disuguhkan. Dengan menggunakan transportasi laut, ada dua rute yang tersedia yakni dengan menggunakan kapal feri dari pelabuhan Bolok Kupang dengan biaya@ Rp.75.000 dan waktu tempuh sekitar 3,5jam atau menggunakan kapal Express dari pelabuhan Tenau dengan biaya @Rp.200.000 dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.
Tiba di pelabuhan Ba’a Rote, kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot dengan biaya @Rp.50.000 menuju Nemberala yang terkenal dengan wisata pantainya. Kepulauan Rote terdiri atas 96 pulau, hanya 6 diantaranya yang berpenghuni. Pulau Rote termasuk dalam wilayah beriklim kering, sama

halnya dengan wilayah pulau Timor lainnya, musim hujan relative pendek hanya sekitar 3-4 bulan. Sehingga, jangan heran jika saat berkunjung ke sini, kita akan sering melihat tumbuh-tumbuhan bahkan rumput yang kekeringan karena kekurangan air. Saya teringat joke teman-teman saya dulu, katanya di daerah Timor, binatang peliharaan seperti sapi, domba dan kambing, pada musim kemarau biasanya dipakaikan kacamata hijau, sehingga mereka tertipu dengan warna rumput yang sebenarnya berwarna kuning karena kekurangan air :).

Karena saat kami datang ke Pulau ini bertepatan dengan awal musim hujan, maka tumbuh-tumbuhan yang tadinya kering sudah mulai terlihat hijau kembali, memberikan suguhan yang menarik sepanjang perjalanan. Masyarakat yang mulai mencangkul dan menanam lahan mereka juga
binatang peliharaan seperti babi yang dibiarkan berkeliaran begitu saja di sekitar pemukiman. Oya ada satu pemandangan unik yang saya jumpai di sepanjang perjalanan. Domba-domba di sini, pada musim kemarau biasanya dicukur bulu-bulunya agar tidak kepanasan. Wah, kasian ya domba-domba yang banyak bekas luka di badannya, pasti malu :)

Perjalanan ke Nemberala kami tempuh selama kurang lebih dua jam. Tiba di Nemberala kami langsung menuju ke penginapan Tirosa yang terletak di pinggir pantai Nemberala.

Di penginapan ini, kami memilih bungalow dengan twin bed dengan tariff @Rp.100.000 included sarapan segelas
kopi serta makan siang dan malam. Murah ya?iyalah, fasilitas yang disediakan juga sangat terbatas hanya
sebuah kamar mandi dalam dan sebuah kipas angin yang hanya bisa dihidupkan pada malam hari, maklum saja listrik di Nemberala hanya menyala pada malam hari.
Karena perut kami belum diisi dengan makan siang, maka setelah menyimpan barang-barang, kami lalu mencari makan di sekitar penginapan. Berjalan 300-an meter kami masuk ke sebuah rumah makan yang kebetulan juga menyediakan minuman dingin. Karena hampir sunset, setelah makan kami kemudian jalan-jalan
ke pantai di depan penginapan. Pantai Nembrala adalah salah satu pilihan tempat surfing di Indonesia Timur. Pada bulan September 2009 yang lalu, di Nembrala diadakan festival surfing yang diikuti oleh para turis mancanegara. Kebanyakan turis-turis yang datang ke Nembrala adalah surf adventure, karenanya penginapan-penginapan disini akan sangat penuh pada bulan-bulan Juli-Oktober, sedangkan pada
bulan-bulan lain seperti sekarang akan sepi pengunjung.











Sunset pantai nemberala sangat indah, luar biasa, sulit untuk menemukan kata yang paling pas untuk mewakili keindahannya, mungkin foto-foto yang saya sertakan ditulisan ini akan mengexpresikan lebih banyak dari pada hanya sekedar kata :)






Bulan menggantikan mentari, kamipun kembali ke penginapan. Di penginapan, kami diberitahu bahwa makan malam telah disediakan, menunya ikan bakar. Rasanya lumayan, sayangnya buat saya yang sangat suka pedes, rasanya sambalnya kurang menggigit :) . Selepas makan malam, kami duduk-duduk bercerita di depan bungalow sambil menikmati suasana malam di Nemberala, hingga tak terasa ngantuk mulai menyerang, kamipun beristirahat, tidur ditemani suara ombak yang mencium pantai.


Di hari kedua, setelah sarapan dengan segelas kopi dan mie instan di pinggir pantai, kami berkeliling di sekitar penginapan dan menyusuri pantai. Pantai yang indah, dengan pasir putih yang luas. Penduduk di nemberala banyak yang membudidayakan rumput laut, karenanya
pasir-pasir banyak dipenuhi rumput laut yang terbawa ombak. Jika nemberala sedang ramai dikunjungi wisatawan, biasanya para wisatawan tersebut rajin membersihkan pantai dari rumput-rumput laut atau daun-daun dari pohon-pohon kelapa, lontar, jambu mente yang banyak ditanam di pinggir pantai. Sampah- sampah makanan atau minuman akan jarang kita temukan di pantai ini, sepertinya kesadaran masyarakat atau pengunjung akan pentingnya kebersihan pantai sebagai potensi wisata andalan di daerah ini lumayan baik.

Bermain pasir atau berjemur dan menambah kehitaman kulit boleh menjadi pilihan, sambil menikmati cantiknya biru laut yang tertimpa cahaya matahari. Oya, jika ke Nemberala, jangan lupa membawa sunblock
dengan kandungan SPF yang cukup tinggi, karena disini sinar mataharinya sangat terik dan sangat mudah menggosongkan kulit.
Layaknya pantai-pantai di Timor umumnya, pantai Nemberala juga penuh dengan karang, tetapi walaupun memiliki banyak karang, tetapi pasir di pantai ini juga luas dan kurasa karang-karang ini justru memberikan nilai keindahan dan keeksotikan tersendiri.

Lewat tengah hari, sambil menunggu sunset, kita bisa berenang atau sekedar berendam sepuas-puasnya. Lelah dan panas terik matahari yang terasa setelah menyusuri pantai yang cantik ini dijamin akan langsung sirna.
Menikmati pantai Nemberala memang sangat menyenangkan, ingin sekali rasanya suatu liburan nanti akan mengunjunginya lagi, menikmati kembali rasanya sarapan di tepi pantai, bermain pasir putihnya dan mengagumi keindahan sunsetnya, semoga ...:)