Jumat, 22 Oktober 2010

Kupang Di Masa Lalu

Ya, di Jalan inilah tampaknya Kupang mendapat julukannya : Kota Masa Lalu. Sejarah awal berdirinya Kupang memang tidak dapat dilepaskan dari wilayah ini. Wilayah yang sekarang disebut-sebut sebagai Kampung Solor (karena banyaknya warga Solor yang bermukim disini) adalah area pusat kota ketika Kota Kupang baru pertama kali berdiri. Jalan Soekarno, yang terletak persis di depan Teluk Kupang bagian barat adalah jalan yang sudah berusia cukup tua. Gampangnya, lihat saja bangunan-bangunan yang ada disini. Hampir semuanya bercirikan bangunan jadul dengan hiasan lumut maupun noda cat yang luntur memenuhi dinding bangunan. Start awal perjalanan ini bisa dimulai dari Simpang Besar Urip Soemohardjo, dari Gereja Katedral Kristus Raja, terus bergerak ke arah barat laut hingga mencapai Teluk Kupang.
Pertama, anda akan bertemu dengan Masjid Raya Kota Kupang Nurusya’Adah. Kubahnya yang sangat besar memang membuat anda tidak mungkin melewatkannya. Pintunya yang bernuansa jadul dan tangga semen tanpa terali di pinggirnya memang menguatkan nuansa jadul pada bangunan ini. Selain sebagai tempat beribadah, Masjid ini juga digunakan sebagai pusat dakwah. Pada saat hari kunjungan, saya tidak menemukan adanya kegiatan sama sekali. Berikutnya, di seberangnya ada Kantor Pos Fontein. Walaupun cat putihnya tampak baru, namun kesan jadul tidak bisa ditutupi oleh bangunan mini berbentuk mirip barak ini.
Kemudian di sekitar belokan jalan, ada Bank BRI dan Kantor Bupati Kupang (Kantor Bupati Kupang berlokasi di Kota Kupang?) yang keduanya mengusung bentuk bangunan yang hampir mirip yakni berbentuk benteng. Bedanya, Bank BRI ditutupi oleh semacam keramik pada sisinya sedangkan Kantor Bupati lebih condong ke arah benteng. Sayang, berhubung keduanya bangunan pemerintah, maka saya tidak terlalu nekad mencoba masuk untuk berfoto. Hehehe…
Terakhir, di area penghujung dekat dengan teluk, ada sejumlah bangunan (kayaknya sich bekas gedung pusat pemerintahan-jelas dengan lambang di atapnya) jadul, super keropos, berjamur, bernoda, catnya rapuh dan kotor. Tulisan yang tampaknya seperti Nacaca Dano Rocca tampak di bagian bawah lambang sebuah pentungan, dengan kapas dan padi di kanan kirinya diapit oleh sepasang sayap. Mungkin ini sejenis lambang kepolisian atau militer? Yang membuat unik adalah sebuah menara tinggi di sebelahnya yang sama-sama keropos dan kotornya dengan bangunan utama. Kondisi serupa dapat ditemukan di Kantor Perlindungan Masyarakat yang juga pada siang itu tidak tampak adanya kegiatan berarti. GMIT Jemaat Kota Kupang berada di sebelah Kantor Perlindungan Masyarakat ini. Terakhir, di ujung jalan ini ada sebuah bangunan gaya Cina yang sudah keropos juga yang di bagian bawahnya dijadikan toko dan emperannya digunakan oleh para pedagang sayur mayur. Puas deh ngeliat bangunan-bangunan tua yang jadul, keropos dan jamuran. Hehehe…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar